JODOH = Impal
Dalam estetika masyarakat Karo pengertian seorang jodoh lazim disebut impal.
Maksudnya, dari awal pihak laki-laki akan direkomendasikan untuk mengambil impalnya.
Walau tidak tertulis, hal ini semacam peraturan adat yang tidak baku.
Artinya, kalau bisa sih laki-laki ngambil impalnya.
Kalau tidak bisa, ambil beru yang sama dengan nandenya alias singumban nande.
Kalau tidak bisa juga, yang penting asal wanita Karo.
Kalau memang tidak bisa lagi, apa boleh buat, siapa aja juga boleh asal bisa menikah daripada dijuluki si jomblo ting-ting.
Di kemasyarakatan Karo, tanggung jawab pihak orang tua begitu besar pada anaknya.
Dengan sabar mereka akan membesarkan anaknya, mendidik dengan pendidikan non formal di rumah.
Lalu melanjutkan pendidikan formal di sekolah.
Setelah tamat sekolah menengah atas.
Orang tua Karo pasti akan meminta anaknya untuk melanjutkan kuliah.
Bahkan beberapa teman kuliah saya dulu yang berasal dari kampung Karo,
orang tua mereka rela menjual ladangnya asal anaknya bisa kuliah.
Yang pasti pendidikan si anak menjadi prioritas bagi mereka.
Dengan kata lain pendidikan anak menjadi tolak ukur kemampuan si orang tua sekaligus mengangkat citra status sosial keluarga.
Setelah kuliah selesai, yang menjadi tanggung jawab orang tua berikutnya yaitu jodoh anaknya.